Sekolah Dasar Berkelompok

Oleh : Sukhoirotun Nisa

Terhitung dari pertama kalinya terdeteksi virus covid-19 di Indonesia pada dua warga Depok, Jawa Barat awal Maret lalu, data hingga Rabu, 22 Juli 2020 jumlah warga yang dinyatakan positif terkena virus corona mencapai 91.751 dan 4.459 di antaranya meninggal dunia. Dengan cepatnya penyebaran virus ini, banyak dampak yang dirasakan oleh berbagai kalangan masyarakat.

Dari mulai pengusaha, pedagang, berlangsungnya Pendidikan dan lain sebagainya. Karena semakin banyaknya masyarakat yang telah positif terkena virus, beberapa kegiatan harus dilaksanakan di rumah baik, yang bekerja maupun yang sedang melaksanakan Pendidikan.

Sudah hampir empat bulan sejak bulan Maret, Pendidikan di Indonesia saat ini belum stabil dan masih berlangsung menggunakan daring atau online. Namun penerimaan siswa baru sudah dilaksanakan pada tanggal 13 Juli 2020, akan tetapi KBM masih dilaksanakan menggunakan daring.

Belajar via daring dirasa kurang begitu efektif untuk sekolah dasar. Tepatnya di daerah kabupaten Karawang di bagian utara. Saat ini beberapa sekolah dasar yang ada di kecamatan Pedes,  kecamatan jayakerta dan kecamatan Cibuaya Kabupaten Karawang tidak lagi menggunakan daring, namun setiap kelasnya dibagi kelompok dan guru atau wali kelas berkeliling untuk memberikan pelajaran yang seharusnya diberikan kepada siswanya.

Satu kelompok kurang lebih terdapat 6-10 siswa, dan ini sudah berlangsung sejak ditetapkannya Tahun Ajaran Baru. Dengan dilakukannya sekolah berkelompok di tingkat Sekolah Dasar, diharapkan siswa dapat belajar dengan nyaman dan dapat menyerap apa yang disampaikan oleh pengajar. Dalam proses belajar berkelompok ini, pengajar dan siswa tetap melakukan protokol kesehatan, seperti cuci tangan dan menggunakan masker.

Dengan adanya kelompok belajar di tingakat Sekolah Dasar ini, mengurangi adanya kerumunan dalam berlangsungnya pembelajaran, akan tetapi membuat seorang pengajar harus mendatangi ke setiap kelompok belajar dan harus mengeluarkan ongkos yang tidak sedikit untuk satu hari perjalanan. Dan jika ini berlangsung lama, akan membuat para pengajar keteteran dalam bentuk finansial.

Dengan begitu, pemerintah tidak hanya memikirkan siswa yang harus mendapatkan pembelajaran, akan tetapi pemerintah pun harus memperhatikan pengajar yang sudah semaksimal mungkin memberikan pelajaran sesuai kurikulum dan tetap memberlakukan social distansing dalam berlangsungnya pembelajaran.

Leave a Reply